Rabu, 30 Maret 2016

Semangat Puasa Sakura

Nisa menatap lurus ke depan. Dalam hati, ia begitu mengagumi arsitektur Masjid Kobe, masjid pertama sekaligus tertua di Negeri Sakura, Jepang. Nisa berdiri di luar pagar Masjid Kobe, masjid yang akan menjadi tempat berkumpulnya Asosiasi Muslim di Jepang itu. Ia penasaran dengan masjid yang masih ‘baik-baik saja’ sekali pun telah diguncang gempa dan dibom atom oleh Amerika Serikat di masa Perang Dunia kedua ini. 2 menara besar mengapit bagian utama Masjid Kobe, bentuk kubahnya sama seperti bentuk kubah kebanyakan masjid di seluruh dunia, dengan warna abu-abu yang membuat masjid itu terkesan berdiri dengan anggun. Berulang kali bibir Nisa mengucapkan kalimat tasbih sembari menelusuri bangunan masjid.
“Subhanallah.”
“Sumimasen (maaf), apa yang sedang kau lihat?” Seorang anak kecil mendekat ke arah Nisa dan mengikuti arah pandang Nisa. Nisa sempat tersentak kaget menyadari kehadiran anak itu, ia menoleh dan langsung tersenyum ketika dilihatnya seorang anak kecil dengan sebuah kerudung menggantung di kepalanya. Masih nampak jelas rambutnya yang belum tertutup sempurna.
“Mm… aku menyukai masjid ini.” Nisa melirik ke arah Masjid Kobe. “Aku datang dari Indonesia, onamae wa? (siapa namamu?).” Nisa tersenyum pada anak kecil itu. “Kamigusa Sakura desu. (namaku Kamigusa Sakura) Senang berkenalan denganmu.” Anak bernama Sakura itu membungkuk. “Kau?”
“Anisa Puji desu. (namaku Anisa Puji) Senang berkenalan denganmu, Sakura-chan.” Nisa mendekat, “Kau muslim?” Ia berjongkok, sehingga sama tinggi dengan Sakura. Sakura mengangguk. Nisa kemudian membenarkan kerudung Sakura, lalu menyematkan peniti pada bagian bawah dagunya. Sakura hanya memandang Nisa dengan tatapan aneh, tapi hanya menurut saat Nisa memperbaiki kerudungnya.
“Kak, aku tinggal di sana.” Sakura menunjuk sebuah toko tak jauh dari Masjid Kobe. “Apa kau mau membeli tempura? Tempura Ibuku adalah yang terbaik di kota ini!” Sakura mempromosikan Toko Tempuranya dengan semangat sambil menggerakkan kedua tangannya. Ia mencoba menggandeng tangan Nisa.
“Eh, maaf Sakura-chan… danjiki o shite (aku puasa).” Nisa menolak dengan halus, membuat Sakura mengerutkan keningnya. “Danjiki? Apa itu danjiki (puasa)?” Sakura menatap Nisa lekat, meminta jawaban. Nisa berpikir keras menemukan kalimat yang mungkin akan mudah dipahami Sakura. Ia tahu sebagian muslim di Jepang hanya mengimani Allah dan hanya beberapa yang benar-benar melaksanakan kewajibannya seperti salat, puasa, dan sebagainya.
“Mm… puasa itu tidak makan dan tidak minum dari sekitar jam 3 pagi sampai sekitar jam setengah 8 malam kalau waktu Jepang.”
“Begitu, ya! Kenapa kau berpuasa?” Sakura semakin gigih bertanya.
“Kenapa, ya? Karena ini perintah Allah. Orang Islam wajib berpuasa untuk menahan keinginan-keinginannya, harus sabar, dan tidak boleh marah, serta agar dapat pahala dan disayang Allah.” Nisa susah payah mencari kosa kata yang pas dan dapat dimengerti oleh Sakura.
“Aku muslim, tapi aku tidak puasa.”
“Berapa umur Sakura-chan?”
“Go-sai desu (5 tahun)!” Sakura mengangkat telapak kanannya untuk menunjukkan kelima jari-jarinya. Nisa mengangguk.
“Apa Sakura-chan mau belajar puasa? Sakura-chan kan muslim…”
“Mm… apa di Indonesia juga puasa?” Sakura terlihat ragu.
“Tentu saja!” Nisa mengelus kepala Sakura. “Di Indonesia, anak-anak seperti Sakura-chan sudah banyak yang puasa. Beberapa dari mereka berbuka jam 12 siang, sebagian lagi berpuasa penuh dari jam 3 sampai jam 6.”
“Berbuka? Apa itu?” Mata Sakura berbinar karena keingintahuannya.
“Berbuka itu… makan saat matahari sudah tenggelam setelah berpuasa, berbuka itu tidak boleh ditunda-tunda dan harus segera dilakukan saat matahari tenggelam.” Sakura tampak bersemangat, “Lalu sahur? Sakura-chan tahu apa itu sahur?” Sakura menggeleng. “Sahur itu makan saat jam 3 sebelum matahari muncul ketika akan berpuasa.” Jelas Nisa singkat. “Kalau begitu aku mau puasa, nanti disayang Tuhan, kan?” Senyum mengembang di wajah Sakura. Nisa mengangguk mantap.
“Mm… untuk sementara kakak akan tinggal di sekitar sini atau kalau boleh, kakak akan menginap di rumahmu. Kakak akan mengajarkan puasa padamu. Kau mau?” Nisa mencari cara agar dapat bersama dengan Sakura untuk mengajarinya.
Sakura hanya mengangguk dengan semangat, kemudian berlari ke rumahnya. Ia senang, ada orang yang akan mengajarinya berpuasa, ia ingin tahu dan ingin mencoba bagaimana rasanya berpuasa. Nisa memandang lagi ke arah Masjid Kobe, menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Untuk pertama kali, ia memiliki kesempatan untuk berdakwah pada Sakura, anak yang baru saja ia temui itu. Yang ia tahu, semuanya berawal pada satu hal, yaitu Masjid Kobe. Masjid yang mempertemukannya dengan Sakura. Ia kini menyadari bahwa Islam dan Jepang memiliki beberapa kesamaan, yaitu sama-sama alami, sederhana, dan terbuka. Ia bangga melihat Sakura dengan binar di matanya, mengingatkannya pada anak-anak di Indonesia yang juga sama bersemangatnya dengan Sakura. Ia berharap, Sakura akan menjadi orang yang akan ikut menjadi penghubung antara Jepang dan Islam nantinya. Kelak, jika ia telah dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar